Minggu, 06 Januari 2013

Contoh Segmentasi Pasar dan Analisis Demografi

Dalam melakukan pemasaran suatu produk, perlu dilakukan segmentasi. Segmentasi tersebut dilakukan agar perusahaan dapat mencapai keuntungan semaksimal mungkin. Segmentasi dapat dibagi kedalam beberapa kategori, namun yang paling umum biasanya segmentasi geografis, psikografis, dan demografi. Dalam kasus ini, contoh segmentasi yang akan dibahas adalah segmentasi demografi. Segmentasi demografi adalah upaya membagi produk yang dipasarkan sesuai dengan usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan hal-hal mendasar lainnya yang termasuk dalam faktor internal masing-masing konsumen. Analisis demografi ini penting dilakukan karena untuk memperoleh minat dan kepercayaan  konsumen, maka pihak marketting harus bisa membaca dan menganalisis hal-hal yang dibutuhkan konsumen berdasarkan unsur demografinya. Seperti contoh, produk susu, tidak mungkin produsen memasarkan produk susu yang sama untuk anak-anak dan orang tua, namun justru perlu dibedakan karena perbedaan usia menyebabkan pula perbedaan kebutuhan gizi dalam tubuh. Begitu pula dengan susu untuk ibu hamil, tentu tidak bisa dikonsumsi untuk anak-anak dalam usia pertumbuhan karena kandungan gizi dalam susu yang dikonsumsi pun akan berbeda pula. Bukan hanya itu, bahkan kini sudah banyak dipasarkan merk susu yang membedakan antara susu untuk anak perempuan dan anak laki-laki, hal ini disebabkan karena produsen memahami bahwa kebutuhan gizi anak pun dapat berbeda tergantung jenis kelaminnya. Biasanya anak laki-laki membutuhkan kandungan protein dan kalsium yang lebih tinggi dari anak perempuan karena anak laki-laki cenderung memiliki aktivitas yang lebih tinggi dari anak perempuan, hal itulah yang menyebabkan diciptakan produk tersebut. Selain itu masih banyak pula produk yang dipasarkan dengan melakukan segmentasi demografi, seperti parfum, tas, pakaian, dll. Pakaian dan tas yang dibuat untuk anak sekolah tentu akan berbeda dengan pakaian dan tas untuk pekerja kantoran, dan akan berbeda pula bentuknya untuk laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, setiap produsen wajib peka terhadap kebutuhan konsumen dan kreatif dalam menciptakan inovasi atas produk-produknya agar produk yang dipasarkan mendapat perhatian, minat, dan kepercayaan dari konsumen sehingga penjualan perusahaan dapat meningkat.
                Tidak hanya analisis demografi, segmentasi pemasaran produk juga penting dilakukan dalam geografi dan psikografi. Segmentasi geografi adalah kegiatan atau upaya membagi produk sesuai dengan wilayah-wilayahnya, sedangkan segmentasi psikografi adalah upaya membagi produk-produk yang dipasarkan sesuai dengan psikologi masing-masing konsumen, yang biasanya dinilai berdasarkan sikap, sifat, motivasi, dan kepribadian konsumen. Untuk segmentasi psikografis cenderung lebih sulit dilakukan karena faktor atau unsur kepribadian konsumen lah yang lebih mendominasi dalam keputusan pembelian dan perilaku konsumsi, sedangkan produsen tentu tidak bisa memahami satu per-satu keinginan konsumen, namun biasanya segmentasi ini dilakukan dengan mengambil kebutuhan mayoritas dari konsumen. Seperti halnya produk shampo, walaupun masih satu merk namun produsen tidak menciptakan satu produk saja melainkan beberapa produk yang memiliki keunggulan masing-masing dalam kandungannya, seperti shampo untuk rambut rontok, rambut rusak, shampo anti ketombe, dll. Dengan demikian, konsumen dapat memilih shampo mana yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan dan motivasi pembeliannya. Sedangkan contoh untuk segmentasi geografis adalah pada produk-produk jaket/coat. Produk seperti ini tentu akan lebih banyak dibutuhkan pada daerah-daerah yang memiliki iklim sejuk cenderung dingin, sehingga toko yang khusus menjual produk-produk ini akan lebih jarang ditemukan pada tempat-tempat di dataran rendah, seperti daerah pantai.

Contoh Pengaruh Individu dalam Perilaku Konsumi

Perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Namun yang paling utama tentu faktor pribadi masing-masing individu karena keputusan pembelian kembali lagi akan ditentukan oleh individu bukan orang lain. Faktor individu yang dimaksud dapat dikategorikan kedalam sifat, motivasi, kepribadian, keinginan, dan kebutuhan individu. Antara individu satu dengan yang lain tentu memiliki sifat, motivasi, karakter, keinginan dan kebutuhan yang berbeda dengan  individu lainnya. Seperti contoh, mahasiswa A adalah tipe individu yang glamour, sosialita, dan cenderung pasif dalam kegiatan perkuliahannya. Sedangkan mahasiswa B adalah mehasiswa yang pintar, rajin, sederhana, dan aktif dalam perkuliahan. Dengan melihat perbedaan karakter kedua mahasiswa tersebut produsen pun dapat menilai bahwa keinginan dan kebutuhan akan produk-produk dari kedua individu tersebut pun akan berbeda. Jika mahasiswa A cenderung berbelanja pakaian dan tas yang berkelas dan mahal, mahasiswa B justru akan memilih pakaian dan tas yang biasa saja asalkan nyaman baginya untuk dipakai. Jika mahasiswa B cenderung menghabiskan uangnya untuk membeli buku dan alat tulis untuk perkuliahannya, mahasiswa A belum tentu akan demikian. Selain itu contoh lainnya adalah ketika seseorang akan mengambil keputusan pembelian dalam membeli mobil. Dalam hal ini peran motivasi sangatlah penting. Konsumen yang akan membeli mobil dengan motivasi untuk akomodasi keluarga seperti piknik keluarga besar, dan keperluan keluarga lainnya cenderung akan membeli mobil yang memiliki kapasitas lebih dari 4 orang (bukan sedan), sedangkan konsumen yang ingin membeli mobil dengan motivasi untuk sekedar gaya, biasanya cenderung memiliih mobil sport atau mobil sedan yang nantinya akan dimodif kembali. Sifat seseorang pun dapat menentuka perilaku konsumsinya. Seperti pada tipe konsumen yang cuek, dalam berbusana pun konsumen tersebut cenderung akan memilih pakaian-pakaian yang terkesan simple dan fleksibel. Berbeda dengan konsumen yang glamour, busana yang dipilihnya pun akan berbeda bahkan mungkin dapat banyak dipadukan dengan menggunakan sejumlah aksesoris. Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa faktor individu berperan cukup penting dalam keputusan pembelian dan perilaku konsumsi seseorang.

Kamis, 03 Januari 2013

Pengaruh Individu dalam Perilaku Konsumen


Dalam perilaku konsumen banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah individu itu sendiri. Setiap individu yang satu dengan individu yang lain dalam mengkonsumsi suatu barang dan jasa pasti berbeda. Tetapi ada kalanya seorang individu dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa dipengaruhi oleh individu lain sehingga individu tersebut mengikuti individu yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, pengaruh individu sangat menentukan dalam perilaku konsumsi. Konsumen yang selektif akan aktif melibatkan diri mereka dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Hal ini dapat menghindari resiko yang dapat ditimbulkan oleh produk. Jika tingkat keterlibatan tinggi secara pribadi maka konsumen tersebut sebagai pemimpin opini.
Suatu perilaku konsumen pun tak lepas dari pengaruh kelompok dan personal yang dianutnya. Reference group adalah seseorang atau sekelompok orang yang empengaruhi perilaku individu secara signifikan. Reference group dapat berupa artis, atlit, tokoh politik, kelompok musik, partai politik, dan lain-lain. Reference group mempengaruhi dalam beberapa cara. Pertama-tama reference group menciptakan sosialisasi atas individu. Kedua reference group berperan penting dalam membangun dan mengevaluasi konsep seseorang dan membandingkannya dengan orang lain. Ketiga, reference group menjadi alat untuk mendapatkan pemenuhan norma dalam sebuah kelompok social.
Perbedaan dan pengaruh individu merupakan faktor internal yang menggerakkan dan mempengaruhi perilaku. Setiap individu memiliki kepribadian berbeda dan tidak ada manusia yang diciptakan sama, sehingga di dalam perilaku konsumsi individu memiliki pilihan yang berbeda pula. Ada lima hal yang menyebabkan konsumen berbeda : (1) Sumberdaya konsumen, (2) Motivasi dan keterlibatan, (3) Pengetahuan, (4) Sikap dan (5) Kepribadian, gaya hidup dan demografi.
Ø Sumberdaya konsumen terdiri dari uang, waktu dan perhatian (penerimaan dan kemampuan mengolah informasi). Ketiga sumberdaya konsumen tersebut dapat mempengaruhi situasi pengambilan keputusan pembelian konsumen. Namun tidak semua konsumen memiliki ketiga sumberdaya diatas,sehingga konsumen harus cermat mengalokasikan sumberdaya yang dimilikinya.
Ø Motivasi perilaku diarahkan pada tujuan yang diberi energi dan diaktifkan (adanya suatu dorongan). Kebutuhan-kebutuhan yang ada tidak cukup kuat untuk memotivasi seseorang untuk bertindak pada suatu saat tertentu. Kebutuhan akan berubah menjadi motif apabila kebutuhan itu telah mencapai tingkat tertentu.
Ø Pengetahuan merupakan hasil belajar sebagai informasi yang disimpan di dalam ingatan. Pengetahuan menjelaskan perubahan dalam perilaku suatu individu yang berasal dari pengalaman. Pengetahuan seseorang dihasilkan melalui proses yang saling mempengaruhi dari dorongan, stimuli, petunjuk, tanggapan dan penguatan.
Ø Sikap merupakan hasil dari pencarian dan evaluasi informasi yang luas atas berbagai kemungkinan yang membentuk suatu sikap terhadap alternatifalternatif yang dipertimbangkan. Sikap sebagai suatu evaluasi menyeluruh yang memungkinkan orang merespon dengan cara menguntungkan dan tidak menguntungkan secara konsisten berkenaan dengan objek atau alternatif yang diberikan. Sikap dikonseptualisasikan sebagai perasaan positif atau negatif terhadap merek dan dipandang sebagai hasil penilaian merek bersama dengan kriteria atau atribut evaluasi yang penting.
Ø Kepribadian, gaya hidup dan demografi merupakan variabel penting yang berhubungan dengan keputusan pembelian. Konsumen akan mengkonsumsi produk dengan citra yang sesuai dengan kepribadian, gaya hidup (cara konsumen menghabiskan uang). Demografi memberikan keterangan mengenai sifat dan komposisi pasar.
Konsumsi seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga. Beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis. Orang- orang dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya. Pekerjaan mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu. Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pemilihan produk. Situasi ekonomi seseorang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya), tabungan dan hartanya (termasuk presentase yang mudah dijadikan uang)
Oleh karena itu, Perilaku konsumsi kita adalah fungsi dari siapa kita sebagai individu. Pikiran, perasaan, sikap, dan pola perilaku menentukan apa yang kita beli, ketika kita membelinya, dan bagaimana kita menggunakannya. Faktor internal memiliki dampak besar pada perilaku konsumen, dan tugas pemasar adalah untuk mencari tahu apa kebutuhan dan keinginan konsumen memiliki, dan apa yang memotivasi konsumen untuk membeli. 

Segmentasi Pasar dan Analisis Demografi


Segmentasi pasar adalah sebuah metode bagaimana memandang pasar secara kreatif. Swastha & Handoko (1997) mengartikan segmentasi pasar sebagai kegiatan membagi–bagi yang bersifat heterogen kedalam satuan–satuan pasar yang bersifat homogen. Sedangkan definisi yang diberikan oleh Pride & Ferrel (1995) mengatakan bahwa segmentasi pasar adalah suatu proses membagi pasar ke dalam segmen-segmen pelanggan potensial dengan kesamaan karakteristik yang menunjukkan adanya kesamaan perilaku pembeli. Segmentasi pasar adalah pembagian suatu pasar yang heterogen kedalam satuan-satuan pembeli yang homogen, dimana kepada setiap satuan pembeli yang homogen tersebut dijadikan sasaran pasar yang dicapai dengan marketing mix tersendiri. Dengan demikian yang semula pasarnya satu dan luas,kemudian dibagi-bagi atau disegmentasi oleh pemasar menjadi beberapa bagian pasar yang sifatnya homogen. Segmentasi yang lengkap membutuhkan biaya yang tinggi, dan kebanyakan pelanggan tidak dapat membeli produk yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk itu, perusahaan mencari kelas-kelas pembeli yang lebih besar dengan kebutuhan produk atau tanggapan membeli yang berbeda-beda. Segmen pasar terdiri dari kelompok pelanggan yang memiliki seperangkat keinginan yang sama (Kotler, 2005)
Salah satu cara dalam mengadakan segmentasi pasar adalah dengan membagi segmen pasar kedalam kategori-kategori sebagai berikut :
-  Segmentasi Geografis, membagi pasar menjadi unit-unit geografis yang berbeda-beda seperti negara, wilayah negara bagian, kabupaten, kota atau pemukiman.
- Segmentasi Demografis, Upaya membagi pasar menjadi sejumlah kelompok berdasarkan variable-variabel seperti usia, gender, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, pendapatan, pekerjaann, pendidikan, agama, ras dan kebangsaan.
- Segmentasi Psikografis, Upaya membagi pembeli menjadi kelompok-kelompok yang berbeda berdasarkan kelas social, gaya hidup atau karakteristik kepribadian.
- Segmentasi Perilaku, Upaya membagi suatu pasar kesejumlah kelompok berdasarkan pengetahuan, sikap, pengunaan atau tanggapan konsumen terhadap suatu produk. 
Segmentasi Hybrid, Upaya membentuk segmen pasar dengan kombinasi beberapa variabel segmen berdasarkan sebuah segmen tunggal, seperti Segmen Geodemografi. Segmentasi ini sangat berguna ketika seorang di bidang advertising dan marketting menemukan prospek terbaik (kepribadian, tujuan dan ketertarikan) bisa diisolasi di mana mereka hidup.
- Segementasi Sosiocultural, Variabel sosiologis (kelompok) dan antropologis (budaya) merupakan variabel sosiokultural, meyediakan dasar lebih lanjut untuk segmentasi pasar. Untuk segmen pasar yang sukses dibagi lagi dalam segmen sesuai dengan tahap pada :
a. Daur hidup keluarga
b. Kelas sosial
c. Budaya dan sub budaya
d. Lintas budaya atau segmentasi pemasaran global
Syarat agar segmentasi efektif :
- Terukur
- Dapat dijangkau
- Substansial
- Dapat dibedakan
- Dapat dilakukan tindakan tertentu.
Langkah dalam mengembangkan segmentasi yaitu:
1. Mensegmen pasar menggunakan variabel-variabel permintaan, seperti kebutuhan konsumen, manfaat yang dicari, dan situasi pemakaian.
2. Mendeskripsikan segmen pasar yang diidentifikasikan dengan menggunakan variabel-variabel yang dapat membantu perusahaan memahami cara melayani kebutuhan konsumen tersebut dan cara berkomunikasi dengan konsumen.
Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:
1. Perusahaan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan-kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
2. Dapat mendesign produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
3. Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
4. Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
5. Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode-periode dimana reaksi pasar cukup besar.

Minggu, 11 November 2012

Sikap Motivasi dan Mawas Diri

Motivasi menurut istilah adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau suatu keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. Tujuan-tujuan yang mendasari motivasi ditentukan sendiri oleh individu yang melakukannya. Individu dianggap tergerak untuk mencapai tujuan karena motivasi intrinsik (keinginan beraktivitas atau meraih pencapaian tertentu semata-mata demi kesenangan atau kepuasan dari melakukan aktivitas tersebut), atau karena motivasi, yakni keinginan untuk mengejar suatu tujuan yang diakibatkan oleh imbalan-imbalan eksternal. disamping itu terdapat pula faktor yang lain yang mendukung diantaranya ialah faktor internal yang datang dari dalam diri orang itu sendiri. Didalam kehidupan, motivasi memiliki beberapa fungsi, antara lain :
1.    Motivasi Sebagai Pengarah Tujuan dan Penggerak Tindakan
Kata motivasi berasal dari kata ‘motif’, yang dapat didefinisikan sebagai suatu sebab atau tujuan yang dapat mendorong individu untuk melakukan suatu perbuatan. Dengan kata lain, motivasi itulah yang menjadi penggerak utama dalam diri individu untuk berusaha keras mencapai atau memperoleh yang apa diinginkannya baik secara positif maupun negatif.
2.    Motivasi Sebagai Pendorong 
Suatu motivasi memiliki fungsi yang sama dengan aspirasi, hasrat atau cita-cita, yang merupakan pendorong utama yang menggerakkan usaha seseorang untuk bersungguh-sungguh dalam mencapai harapannya. Jadi, semakin besar motivasi seseorang, semakin kuat pula dorongan untuk berusaha dalam dirinya.
3.  Motivasi Sebagai Stimulator 
Maksud motivasi sebagai stimulator disini adalah bahwa dengan timbulnya suatu motivasi dalam diri seseorang dapat menimbulkan suatu rangsangan yang dapat menambah semangat dalam masing – masing individu terhadap pencapaian suatu hal yang benar-benar diingkannya.
4.  Motivasi Sebagai Sumber Keberanian 
Ketika seseorang sudah betul-betul dan benar-benar menginginkan sesuatu, maka ketakutan dan kemalasan akan menjadi 2 hal yang merupakan musuh utama dalam pencapaian tujuan tersebut. Oleh karena itulah, dalam hal ini motivasi berperan penting sebagai sumber timbulnya keberanian, kerajinan dan ketekunan yang dapat melawan kedua hal tersebut.

Selasa, 06 November 2012

Contoh Pengaruh Kelas Sosial dan Status Terhadap Pembelian dan Konsumsi



Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa faktor kebudayaan merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi  pembelian dan konsumsi seseorang. Namun ternyata bukan hanya faktor kebudayaan saja, faktor kelas sosial dan status pun ikut berpengaruh dalam perilaku konsumsi seseorang. Sebagai contoh, seorang direktur perusahaan asing yang tinggal di kawasan elit dan memiliki banyak relasi dengan orang terpandang tentu akan memiliki status sosial yang berbeda dengan anak dari staff perusahaan tersebut. Perbedaan status sosial ini tidak hanya terlihat dari perilaku dan gaya hidup mereka tetapi juga pada pola konsumsi sehari-hari. Seorang direktur perusahaan dengan status sosial yang tinggi biasanya akan memilih tempat pertemuan atau acara makan-makan dengan relasinya di restoran-restoran besar (ex : Grand Hyatt, Shangri-la, Ritz Carlton, J.W. Marriott, dll) sedangkan staff perusahaan cenderung memilih tempat di restoran biasa. Perbedaan konsumsi dari status sosial pun dapat terlihat dari pemakaian kendaraan umum. Seperti yang kita ketahui, untuk taxi tersedia taxi tarif bawah yang bisa digunakan kalangan menengah, taxi blue bird yang biasa digunakan sebagian kalangan menengah keatas, dan taxi Silver Bird yang biasa digunakan kalangan dengan status sosial dan kelas sosial yang tinggi. Pembelian barang sehari-hari pun dapat membedakan status dan kelas sosial konsumen. Biasanya konsumen yang memiliki status sosial tinggi cenderung membeli produk-produk bermerk yang asli atau produk-produk impor, sedangkan konsumen dengan kelas sosial menengah ke bawah hanyak membeli produk bermerk KW atau mungkin produk pabrik lokal yang tidak bermerk. Dari contoh diatas dapat terlihat produsen pun memanfaatkan perbedaan status dan kelas sosial tersebut untuk dalam mengeluarkan produk-produknya. Bentuk pemanfaatan tersebut terlihat dari harga yang ditetapkan dan kualitas produk yang diberikan.
Atau mungkin untuk beberapa kasus tertentu seseorang justru mengubah pola konsumsinya sebagai faktor tuntutan dari status sosial yang melekat padanya. Seperti contoh, Lucy adalah bagian dari unit manager di suatu perusahaan asuransi terbesar di dunia. Namun secara pribadi ia adalah sosok yang sederhana. Ketika ia berusaha merekrut agent baru untuk perusahaannya, Lucy harus mengubah pola konsumsinya menjadi lebih tinggi dengan berpenampilan lebih glamour dan menggunakan produk-produk branded dikarenakan statusnya sebagai unit manager dan untuk meyakinkan para calon agent bahwa jika mereka serius bekerja dalam perusahaan tersebut, kehidupan mereka dapat  menjadi jauh lebih baik seperti halnya para unit manager di perusahaan tersebut. Dengan kata lain, Status Sosial dan Kelas sosial jelas dapat mempengaruhi gaya hidup dan pola konsumsi seseorang. Bahkan tak sedikit beberapa kelompok sosial dari kelas menengah yang berusaha menyamakan pola konsumsinya dengan kelompok dari kelas sosial atas demi memperoleh status sosial yang lebih tinggi dan diakui oleh kelompok dari kelas sosial atas karena pada dasarnya, mayoritas dari bagian kelompok sosial atas cenderung hanya mengakui orang-orang dari kelompok dengan status sosial yang sama.

Contoh Pengaruh Kebudayaan Terhadap Pembelian dan Konsumsi


Dewasa ini, kebudayaan Indonesia sudah banyak dipengaruhi oleh kebudayaan asing, baik itu budaya barat maupun timur (Jepang dan Korea).  Banyaknya pengaruh yang masuk dalam kebudayaan Indonesia tidak hanya mempengaruhi sikap dan perilaku sehari-hari masyarakat Indonesia tapi juga mempengaruhi perilaku pembelian dan konsumsi. Sebagai contoh, di tengah maraknya budaya jepang dan korea yang sedang berkembang di Indonesia, tidak sedikit konsumen yang mulai membeli barang-barang yang bertemakan Jepang/Korea. Seperti halnya makanan, banyak konsumen awalnya mengkonsumsi masakan daerah dari Indonesia kini beralih mengkonsumsi ramen, sushi, kimchi, dsb. Untuk penampilan pun banyak konsumen yang kini mengincar baju (ex : coat, dress) dan tas ala artis-artis korea dan make-up dengan brand korea. Sedangkan untuk budaya jepang, beberapa kalangan mengadakan acara cosplay dimana pihak-pihak yang berpartisipasi dalam acara tersebut harus menggunakan costum layaknya karakter-karakter anime atau tokoh jepang lainnya, dan tentu saja hal tersebut membutuhkan perlengkapan yang harus dibeli. Untuk beberapa kalangan yang merupakan profesional cosplayer, mereka sudah banyak mengumpulkan barang-barang bertemakan jepang tersebut. Bahkan tak jarang penampilan sehari-hari dan kehidupan mereka pun didasari pada budaya jepang.
Contoh-contoh di atas merupakan bentuk dari pengaruh kebudayaan terhadap pembelian dan konsumsi masyarakat. Dimana hal tersebut membuktikan bahwa ternyata memang perilaku konsumsi masyarakat dapat dibentuk dari budaya yang berkembang. Dalam hal ini produsen pun ikut memberikan pengaruh pada perilaku konsumsi masyarakat, khususnya dalam hal pemasaran/pengiklanan atas produk-produknya. Konsep pemasaran yang didasarkan pada budaya jepang/korea tentu akan semakin mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian dan konsumsinya. Seperti halnya dengan memakai artis-artis jepang dan korea sebagai icon produk kecantikan dan whitening, hal tersebut tentu dapat mendorong minat konsumsi masyarakat untuk mengkonsumsi produk tersebut dengan harapan dapat memberikan efek layaknya yang mereka lihat dari icon produk tersebut. Masyarakat yang semula menggunakan produk dari Indonesia kini mulai beralih menggunakan produk – produk luar. Bagaimanapun juga, pada dasarnya konsumen cenderung akan mengkonsumsi produk-produk yang sedang booming di kalangan masayarakat.